Friday, May 15, 2020

Enggan Meminta-minta, Kong Usu Memilih Menjadi Pemulung


Ada pepatah yang mengatakan bahwa kita harus keras terhadap diri sendiri sebelum dunia keras kepada kita. Ini sangatlah terbukti di mana jika kita bermalas-malasan, kejamnya dunialah yang akan membuat kita susah. Oleh karena itu, para pejuang nafkah rela banting tulang dari pagi hingga malam agar bisa memberikan kenyamanan bagi anggota keluarganya di rumah. Perjuangan ini tidak mengenal usia karena kita bisa melihat lansia yang masih saja berjualan di pinggir jalan.

Sebut saja namanya Kong Usu. Aktivitas sehari-harinya dihabiskan untuk memulung sampah-sampah yang ada di sekitaran Perumahan Gading Griya Lestari, Sukapura, Jakarta Utara. Di usianya yang sudah renta, ia tidak ingin santai berdiam diri di rumah. Pasalnya, masih ada keluarga yang harus nafkahi. Dan inilah salah satunya pekerjaan yang bisa dilakoni oleh Kong Usu.

Sosok Kong Usu

Saat matahari sudah mulai tenggelam, Kong Usu masih mengayuh sepedanya yang sudah usang. Setiap ada botol plastik atau barang pecah belah, ia masukan ke dalam kresek untuk kemudian dijual ke pengepul. Sesekali ia mengelap keringatnya yang sedari tadi mengucur dari keningnya. Namun, bukan itu yang sebenarnya mengganggu, melainkan perutnya yang sedari tadi berbunyi meminta asupan makanan.

Kong Usu, di usianya yang menginjak 76 tahun, ia masih saja bekerja mencari nafkah untuk keluarganya. Ia tinggal di Jalan Tipar Cakung, Jakarta Timur. Ia tinggal bersama istrinya dan dua anak bungsunya. Empat anaknya yang lain sudah mandiri dan memiliki keluarga masing-masing. Untuk itu, mau tidak mau Kong Usu masih harus mencari pundi-pundi rupiah agar bisa bertahan hidup.

Untuk memulung barang-barang rongsok, Kong Usu lebih memilih menggunakan sepeda. Bukan tidak ingin menggunakan gerobak, tetapi ia tidak memiliki cukup modal untuk membeli alat tersebut. Jangankan untuk membeli gerobak, untuk membetulkan sepedanya saja ia masih kesulitan. Sepedanya terlihat sudah tidak layak pakai. Bagian bannya sudah sudah banyak tambalan. Ini tentu saja membuat iba siapa pun yang melihatnya.

Penghasilan yang didapatkan Kong Usu tidak terlalu besar. Setiap harinya, ia mendapatkan uang berkisar antara Rp. 5000 sampai Rp. 10.000 per harinya. Jumlah tersebut tentu saja tidak cukup untuk mengenyangkan empat perut anggota keluarga. Untuk itu, Kong Usu biasanya memilih untuk tidak makan, yang penting istri dan anaknya bisa mencicipi sesuap nasi hari itu.

Kebaikan untuk Kong Usu

Kebaikan yang dilakukan oleh Kong Usus untuk keluarganya tentu patut diacungi jempol. Ini tentu saja bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk mulai melakukan kebaikan. Salah satu caranya adalah dengan menjadi peserta produk asuransi syariah AlliSya Protection Plus. Melalui layanan ini, kita bisa memberikan kebaikan berupa perlindungan maksimal dan adil pada orang-orang terkasih berupa biaya rumah sakit, penyakit kritis, obat-obatan, dan masih banyak lagi. 

Selain itu, kita juga bisa #AwaliDenganKebaikan dengan menggunakan fitur wakaf pada Asuransi Syariah Indonesia Allianz. Wakaf memberikan kesempatan bagi kita semua untuk mendonasikan sebagian dana bencana bagi peserta asuransi lain yang lebih membutuhkan. Dengan kebaikan ini, ada banyak manfaat yang bisa dirasakan oleh banyak orang.

Dengan melakukan kebaikan tulus dari hari, kita bisa memberikan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitar kita. Kong Usu merupakan salah satu sosok yang tidak pernah berhenti melakukan kebaikan bagi keluarganya dan sangat layak untuk mendapatkan umroh gratis dari Allianz. Untuk itu, tebar manfaat sebanyak-banyaknya agar ada banyak kebaikan di sekitar kita.

0 comments:

Post a Comment