Sunday, May 19, 2019

Meugang, Tradisi Ramadan dari Aceh yang Turun-temurun


Sebagai salah satu daerah dengan penduduk muslim terbanyak di Indonesia, tentunya Aceh memiliki tradisi sendiri dalam menyambut bulan suci Ramadan. Salah satu tradisi Ramadan yang selalu dilakukan turun-temurun adalah Meugang yang juga dikenal sebagai MakMeugang, Haghi Mamagang dan beberapa sebutan lain. Seperti apa tradisi ini?

Sejarah Meugang
Tradisi ini sendiri sebenarnya tidak hanya muncul ketika menyambut bulan suci Ramadan saja, namun juga ada ketika menjelang hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Tradisi ini muncul bersamaan dengan penyebaran agama Islam di Aceh yang dimulai pada abad sekitar 14 M. Bahkan, tetua Aceh menyebut tradisi ini sudah muncul sejak kerajaan Aceh Darussalam.

Awalnya, tradisi ini hanya dilakukan di kalangan kerajaan saja dan dihadiri oleh para sultan, menteri dan para pembesar kerajaan beserta ulama. Namun, meski dilakukan di kalangan kerajaan saja, namun pada hari itu raja juga memerintahkan pada balai fakir atau balai yang menangani fakir miskin dan dhuafa untuk membagikan daging, pakaian dan beras.

Ada yang menyebut juga bahwa pelaksanaan tradisi Meugang menjelang hari besar umat Islam ini dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur atas datangnya bulan Ramadan. Oleh sebab itu, mereka memotong lembu atau kerbau dan dagingnya dibagi-bagikan pada rakyat kecil.

Perkembangan Tradisi Meugang Saat Ini
Saat ini, tradisi Ramadan Meugang yang dilaksanakan di Aceh tak lagi hanya dilakukan di kalangan kerajaan saja. Namun, semua lapisan masyarakat di Aceh telah melaksanakannya sesuai dengan ajaran agama Islam. Di hari itu, masyarakat Aceh bersuka cita dengan menyantap berbagai makanan dengan bahan utama sapi atau lembu.

Namun, makin ke sini tak hanya daging sapi dan lembu saja yang disajikan dalam acara Meugang. Namun, menu masakan juga dibuat dari daging kambing, ayam dan bebek. Uniknya lagi, meski kebutuhan akan daging sapi sangat besar jumlahnya di hari ini, masyarakat Aceh jarang sekali memilih sapi impor.

Mereka lebih memilih sapi lokal untuk keperluan Meugang yang mana cara mendapatkan sapi tersebut dilakukan dengan cara Meugang di Gampong atau datang langsung ke desa yang khusus menjual sapi serta datang langsung ke pusat penjualan sapi. Hanya saja, harganya bisa sangat tinggi. Dua kali lipat dari harga biasa.

Jenis Masakan yang Disajikan Saat Meugang
Meski sama-sama di Aceh, sebenarnya, masakan yang disajikan dalam acara Meugang ini berbeda-beda. Untuk masyakarat perkotaan misalnya, mereka lebih memilih untuk memasak daging dengan cara modern seperti mengolahnya menjadi stik, semur, sate dan masih banyak lagi. 

Namun, di daerah yang lebih terpencil seperto Pidie, Bireun dan Aceh Utara, daging Meugang dilah menjadi makanan khas Aceh seperti kari. Sedangkan di Aceh Besar, masyakarat kebanyakan mengolahnya menjadi daging asam keueung, sie rouboh, rending dan sop. 

Sedangkan di Kabupaten Nagan Raya, Aceh Barat, Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan biasanya memasaknya menyerupai menu masakan Padang. Tak heran sebab kebanyakan masyarakat Aceh pada daerah ini kebanyakan adalah keturunan Minang.

Selain daging, ada masakan khas lain yang wajib disajikan dalam acara Meugang ini. a adalah tape yang dimasukkan dalam bambu dan dibakar menggunakan api besar. Selain itu, ada juga timphan atau makanan yang dibuat dari tepung ketan dengan isi srikaya di dalamnya. 

Nilai yang Terkandung dalam Acara Meugang
Meski terlihat biasa, sebenarnya cara Meugang ini memiliki nilai tersendiri, nilai kebersamaan. Hal inilah yang ditanamkan para leluhur sejak dulu kala. Mereka yang mampu berbagi dengan yang tak berpunya. Selain itu, juga mengeratkan tali silahturahmi keluarga karena biasanya antar keluarga saling mengunjungi di hari ini.

Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi Ramadan tersendiri. Di Aceh, ada yang disebut Meugang. Di daerah lain tentu juga ada tradisi lain yang tak kalah unik. Nah, di daerah Anda, ada tradisi apa yang dilaksanakan setiap bulan Ramadan tiba?

0 comments:

Post a Comment